Karena Islam Bukan Sekedar Simbol

Rahadian Dustrial DewandonoOPINI_Rahadian Dustrial Dewandono, Teknik Informatika ITS 2008 –

Islam merupakan agama yang dapat diterima oleh semua suku bangsa. Lintas negara, lintas ras, lintas bahasa, ataupun lintas warna kulit dan iris mata tidak menjadi penghalang bagi penetrasi cahaya dakwah Islam. Kemajumukan adalah sebuah keniscayaan. Sebagai jalan hidup, Islam dapat mengakomodasi itu semua. Karena hakikatnya, nilai-nilai Islam lah yang harus kita implementasikan.

Sekitar satu setengah milenium yang lalu, Islam diturunkan kepada Rosul Muhammad SAW di Jazirah Arabia. Al Quran pun diwahyukan dengan menggunakan bahasa Arab agar kita dapat mempelajari isinya secara utuh (Yusuf:3). Dari dulu sampai sekarang, isi Al Quran dan Al Hadist tetap orisinil karena tidak mengalami distorsi dalam pengubahan bahasa.

Nampaknya, beberapa masyarakat kita salah kaprah. Mereka salah tafsir dalam memahami Arab dan Islam. Seakan-akan seluruh perangkat budaya Arab, mulai dari bahasa, lambang, cara berpakaian, cara bersalaman, sampai dengan wangi parfum khas Arabia sekalipun mereka anggap sebagai penerapan nilai keislaman. Bahayanya, mereka belum mengetahui dasar Quran atau Hadist yang menyerukan untuk melakukan hal-hal tersebut. Islam diterima bukan karena simbolnya, namun karena esensi kemaslahatannya.

Memakai kerudung, jilbab, hijab, atau cadar untuk menutup aurat adalah penerapan syariat Islam. Menutup kepala bagi laki-laki agar saat sujud rambut tidak menutupi dahi juga dianjurkan di Islam.  Belajar bahasa Arab pada Al Quran juga salah satu cara untuk memahami isi Al Quran. Itu semua bukan budaya arab, namun merupakan penerapan nilai Islam yang memiliki esensi.

Baca selengkapnya opini ini di : http://dewa18.wordpress.com/2012/08/18/islam-bukan-sekedar-simbol/